Langsung ke konten utama

TERPAKSA AKU MEMILIH PULANG

 



17 Mei 2025 
Aku melangkah perlahan menyusuri koridor di gerbang kedatangan Interasional di bandara Soeta.
Dalam hatiku masih belum benar-benar merasa tenang, meskipun tak henti-hentinya dia meyakinkan aku  bahwa semua akan baik-baik saja.Dan memastikan bahwa sudah ada pihak yang akan memastikan aku bisa pulang dengan aman. Tetapi perasaan ini tak bisa berbohong, aku masih belum sepenuhnya merasa tenang. Sampai akhirnya aku masuk "lOUNGE PMI" dan disambut oleh petugas Helpdesk KP2MI yang memastikan saya aman sampai dijemput oleh suamiku.

Singapura Tak Seindah Yang Aku Bayangkan, Majikan Pertamaku Tak Memberiku Makan Yang Cukup.

Namaku Lina, aku berasal dari sebuah desa di Karawang Jawa Barat. Aku seorang Ibu dari seorang anak, dan kami adalah keluarga kecil yang hidup pas pasan. Karena kondisi itulah, dengan niat ingin membantu memperbaiki perekonomian keluarga, atas ijin suamiku maka aku memutuskan untuk mendaftarkan diri sebagai CPMI, untuk bekerja ke Singapura. Aku dan suami sudah sepakat untuk berbagi tugas dan tanggung jawab dalam menjaga dan merawat anak kami, meskipun kami harus berjauhan.

Dengan tekad yang kuat aku mengikuti semua prosesnya, mulai dari belajar bahasa, mengikuti pendidikan dan pelatihan, sampai test kesehatan, semua berhasil aku lewati. Sampai tibalah waktunya aku berangkat menuju negara Singapura. Meskipun ada rasa nervous, sedikit takut sekaligus penasaran tentang bagaimana nanti setelah aku menginjakkan kaki di tanah asing, di negara yang sama sekali belum pernah aku kenal. Baik bahasanya, budayanya, maupun segala hal yang sama sekali berbeda dengan tempat asalku.
Tetapi tekad yang kuat membuatku berani dan aku berusaha terus berpikir positif, karena aku sadar betul aku berangkat dengan sebuah tujuan. Bekerja dan mencari uang untuk kehidupan yang lebih baik bagi keluarga.

Sesampainya di Sigapura, aku menjalani proses lanjutan selama beberapa hari, sampai akhirnya majikan menjemputku dari kantor agency.
Aku mulai bekerja pada sebuah keluarga di singpura. Ada rasa campur aduk saat itu, karena ini adalah pertama kalinya aku bekerja di tempat yang sangat asing bagiku. Namun aku sadar bahwa aku harus berdaptasi dengan semuanya, adaptasi dengan anggota keluarga majikan, dengan keadaan rumah majikan, dan yang terpenting adalah mengikuti jadwal pekerjaan dan perintah majikan. Rasa takut salah  selalu menghantuiku, karena aku juga belum lancar dalam  berkomunikasi sehingga rasa takut membuat kesalahan menjadi tekanan tersendiri buatku. Karena keadaan itulah maka ada hal-hal  yang tidak mampu aku ungkapkan, aku tidak punya keberanian untuk menyampaikan karena majikan suka marah kalau aku dianggap membuat kesalahan yang tidak aku sengaja.

Aku harus bekerja hampir tanpa henti dari pagi sampai malam, dan tidak diberikan makan yang cukup sehingga berat badanku menurun. Aku tidak kuat lagi untuk melanjutkan karena jam kerja yang sangat panjang, tidak cukup makan dan istirahat, dan gagal membangun hubungan yang baik dengan keluarga majikan.

Lalu aku menghubungi agency dan menyampaikan keadaanku. Agency kemudian menjemputku, dan selama aku di penampungan aku bisa mendapatkan makan dan istirahat yang cukup. Karena sebenarnya sebenarnya agency memperlakukan aku dengan baik, aku juga bisa berkomunikasi dngan keluarga dan teman, yang pada akhirnya aku mendapatkan kontak. (Aku memanggilnya Kakak N) yang bisa aku hubungi untuk menyampaikan keluh kesah dan kondisiku dan meminta saran apa yang sebaiknya aku lakukan.

Karena sejujurnya aku masih ingin bekerja, dan agency pun menawarkan apakah aku mau cari majikan lain?. Diapun menyarankan, selama agency memperlakukan aku denganbaik dan tidak melakukan intimidasi,kalau memang masihingin bekerja ya ikuti saja prosesnya, semoga nanti dapat majikan yang lebih baik.  Akupun mengiyakan dan sampai akhirnya aku mendapatkan majikan baru setelah hampir sebulan berada di penampungan agency. Aku memulai lagi dari nol, beradaptasi lagi dengantempat yang baru, keluarga majikan yang baru, juga jadwal pekerjaan yang baru dan berbeda dari yang sebelumnya.



Ternyata Majikan Kedua Tak lebih Baik Dari Sebelumnya.

Aku mulai bekerja kembali pada majikan keduaku dengan harapan dan tekad yang lebih tinggi. Aku menganggap yang kemarin mungkin nasibku kurang baik, tetapi aku yakin pengalaman yang buruk bukan berarti akan buruk selamanya. Hal baik pasti ada dan aku yakin itu akan datang, aku pun berusaha menjemput hal baik itu dengan niat dan kerja keras.

Mulailah aku bekerja pad keluarga majikanku yang kedua. Tetapi aku merasa ada yang tidak sesuai dengan perjanjian yang disepakati, baik secara lisan, tertulis dalam kontrak kerja maupun secara aturan. Aku disuruh bekerja di dua tempat setia harinya, selain mengerjakan pekerjaan rumah aku juga harus membantu pekerjaan di toko milik majikanku. Awalnya aku berpikir mungkin majikanku hanya butuh bantuanku saat itu, atau mungkin hanya sekali-sekali saja. Karena posisiku yang sudah berstatus ''transferan'' dari majikan pertama yang hanya bekerja kurang dari satu bulan, jujur saja ada banyak sekali pertanyaan yang berkecamuk di kepalaku. Apakah hal ini dibolehkan?. Atau aku harus jalani saja karena aku butuh pekerjaan ini?. Kalau aku mengadu lagi ke agency, apakah aku akan dimarahi karena dianggap tidak ada niat kerja?

Sementara di sisi lain aku merasa khawatir dan takut, karena sepengetahuanku yang sangat minim, kita hanya boleh bekerja di rumah atau alamat majikan yang tertera dalam ijin kerja. Sebagai PRT migran kita juga tidak dibolehkan bekerja di dua tempat, diberi gaji tambahan atau tidak, hal itu tidak dibolehkan karena melanggar regulasi di Singapura. Tetapi akau masih ragu harus mengadu ke mana. ke agency? MOM? atau KBRI?. Aku masih merasa takut untuk membuat aduan karena di satu sisi aku masih ingin kerja, tetapi di sisi lain, kenapa aku harus dipertemukan lagi dengan situasi dan kondisi yang sulit.

Kemudian, sekali lagi aku menghubungi (Kakak N) dan menceritakan keadaanku dan meminta saran apa yang bisa aku lakukan selanjutnya. hampir setiap hari kita berkomunikasi karena aku mash merasa takut, tetapi dia terus berusaha membuatku merasa tenang tetapi memiliki keberanian untuk bicara. Dia ingin aku melakukannya step by step, ''tidak grusah grusuh'' dan kalau bisa meminimalisir perdebatan, agar bisa dijemput agency secara baik-baik. Karena walau bagaimanapun agency yang mempunyaikewajiban untuk menyelesaiakan masalahnya, apalagi karena masa potongan gaji belum selesai, atau hutang belum lunas. Kakak N selalu mengingatkan aku bahwa mentalku harus tetap terjaga, jangan sampai salah mengambil langkah justru akan menimbulkan kemaraan dari agency yang akan membuatku semakin tertekan ketika kembali tinggal di tempat agency.

Akupun mengikuti semua sarannya dan lebih sabar menunggu ketika agency menjanjikan akan bicara atau menegur majikanku. Namun setelah diberi waktu dan kesempatan majikanku tidak berubah, hingga akupun minta agency untuk menjemputku. Akupun kembali tinggal dipenampungan agency, aku sedih kenapa nasibku sangat tidak beruntung, dalam waktu yang sangat pendek aku bekerja dengan dua majikan berbeda, tetapi keduanya tidak memperlakukan akau sebagaimana mestinya.



Terpaksa Aku Memiih Pulang.

Untuk kedua kalinya aku harus meninggalkan pekerjaanku dan harus tinggal di penampungan agency bersama teman-teman pekerja migran lainnya dari negara lain, baik yang baru datang atau yang mau mencari majikan baru atu transfer.

Setelah beberapa hari agency menanyaiku,apakah aku masih ingin kerja?. Agency bilang masih bisa membant prosesnya kaena dia mendapatkan ijin kalau masih mau cari majikan lain. Dalam hati, tentu aku masihingin bekerja karena ingat tujuanku ke singapura untuk bekerja. Aku sudah terlanjur berada di negara singa ini, untuk bisa sampai ke tahapini juga tidak mudah karena harus melalui proses dan waktu. 

Akan tetapi aku terkejut ketika agency mengatakan tentang hutang yang harus aku bayar melalui sisem potongan gaji akan bertambah lagi. Dari perjanjian awal gajiku harus dipotong selama enam bulan, lalu setelah aku meninggakan majikan pertama dan berpindah ke majikan kedua, hutangku ditambah satu bulan gaji lagi. Aku terpaksa mengiyakan saya itu karena tidak punya pilihan, aku memilih segera dapat bekerja kembali dari pada menoak untuk menambah hutang.

Tetapi kali ini aku merasa terlalu berat, tekadku untuk mencari majikan bar sudah menurun. Mungin hal itu dikarenakan pengalamanku yang dua kali mendpatkan majikan yang tidak baik, ditambah lagi harus menanggung beban hutang yang semakin bertambah. Bukan karena aku tidak mau bekerja keras, bukan karena aku tidak ingin legi berjuang. Tetapi beban itu semakin berat menurutku, dan bukan tidak mungkin beban pikiran itu akan terus mengganggu pikiranku yang pasti akan berdampak kepada mentalku nantinya. Aku tak sekuat itu, aku masih punya anak dan suaami yang menungguku, akuingin pulang dalam kondisi sehat untuk mereka, apapun prosesnya nanti.Aku mengikuti semua arahan dari Kakak N yang memebrkan aku kebebasan untuk menentukantan tetapi meminimalisir konflik, harus lebih sabar lagi menunggu sampai prosesnya berjalan.

Ternyata prosesnya tak semudah yang aku bayangkan, hanya menunggu majikan membelikan ticket untuk pulang. Tetapi ada banyak drama dan konflik yang aku dan keluargaku hadapi selama proses itu. Ada intimidasi dan percobaan pemerasan yang dilakukan oleh perantara atau calo yang ada di Indonesia. suami sudah terlanjur mengikuti kemauan orang tersebut, karena takut aku tidak bisa pulang. Kami tidak punya pilihan karena posisiku berada di penampungan agency, dan aku hanya ingin pulang dan bertemu keluarga. Aku harus mengalah dalam pembicaraanuntuk menghindari perdebatan yang tentu saja aku berada daamposisi yang lemah. Aku sadar ini hakku untuk menentukan dan memilih pulang, karena aku mendapatkan kondisi kerja yang tidak sesuai aturan, dan aku juga beangkat melalui proses yang resmi dan prosedural. Akan tetapi aku tidak mempunyai cukup keberanian untuk melawan atau menantang meskipun aku tidak dalam posisi yang salah. Semuanya aku lalui dengan terus berusaha menguatkan mentalku sendiri untuk lebih bersabar dan bersabar lagi.

Hari yang aku tunggu akhirnya datang, aku diantar oleh sopir dari agency menuju bandara changi singapura. Hari kepulanganku akhirnya tiba, dan aku pulang kembali ke Indonesia meskipun aku gagal mencapai target dan tujuanku. Tetapi aku sudah memutuskan, dan ini jalan terbaik yang harus aku ambil. 

Sesampainya di Indonesia, aku tidak langsung terlepas dari masalah yang aku hadapi. aku dan suamiku harus menghadapi masalah yang belum selesai, dn kami tidak mampu menyelesaikn sendiri. Tetapi kami merasa beruntung, karena Kakak N menghubungi Mas B untuk mendampingiku setelah di Indonesia. Semua tidak instant dan butuh proses, tetapi aku sudah mulai terlatih untuk lebih sabar dalam mengikuti prosesnya sampai semua masalah selesai, dan aku pun mendapatkan hakku.
Dan saat ini, aku menjalani hari hariku sebagai Ibu rumah tangga yang mengurus anak dan suami, sementara suaiku bekerja sebagai nelayan untuk mencukupi kebutuhan kita sehari-hari.

Semoga kisahku ini menjadi pelajaran bagi semua, bahwa bekerja di luar negeri jangan hanya menyiapkan tenaga dan dokumen, tetapi juga mental. Apabila kita menghadapi hal yang jauh di luar perkiraan kita, dan kita merasa hal itu tidak lyak untuk dilanjutkan. Tetaplah menjaga mental kita untuk tetap stabil, agar ketika kita harus dihadapkan dengan pilihan yang sulit, kita bisa mengambil keputusan dengan kepala dingin. Dan jangan lupa mencari orang yang bisa mendengarkan keluhan kita tanpa menghakimi, tetapi memahami.



Terakhir, tidak lupa aku ucapkan terima kasih kepada semua yang terlibat dalam perjalananku.

KP2MI, Kakak N, Mas B. Yang membantu dan mendampingi kasusku sampai selesai.



Penulis : Pena Novia

























Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seminar Perempuan KBRI Singapura

SEMINAR PEREMPUAN Perilaku Sehat, Wanita Tangguh. KBRI Singapura, minggu 29-09-2024 Dharma Wanita Persatuan KBRI Singapura mengadakan acara seminar bertema perempuan, yang diadakan di ruang Nusantara KBRI Singapura. Dr. Merisa Auditanya Taufik menjadi pembicara di acara tersebut, yang memberikan materi seminat tentang hal-hal yang tentang kesehatan perempuan. Dan  dihadiri oleh kurang lebih 200  pekerja migran Indonesia yang merupakan pekerja perempuan. Acara dibuka dengan sambutan dari Ibu Nuri Widowati Suryo Pratomo sebagai ketua Dharma Wanita Persatuan KBRI Singapura. Yang kemudian dilanjutkan ke acara inti. Pemaparan materi diawali dengan point penting yaitu : Perempuan Adalah Sosok Penting Kehidupan.  1.Karena perempuan diberikan rahim untuk proses kelangsungan hidup manusia. 2.Perempuan dibekali naluri keibuan untuk meberikan cinta dan kehangatan. 3.Perempuan sebagai 'sekolah pertama' untuk anak-anaknya. Kemudian dilanjut dengan materi-materi yang tidak ...

PMI BERTAHAN DI LUAR NEGERI KARENA APA?

                                  Bertahun-Tahun Bertahan di Negara orang, Sampai Kapan? Bicara tentang PMI (Pekerja Migran Indonesia) memang selalu menarik, karena ada banyak cerita yang beragam dan mungkin hanya difahami oleh sesama PMI itu sendiri, dan mereka yang memiliki concern terhadapa permasalahan PMI. PMI berasal dari berbagai background kehidupan yang bermacam-macam. Namun pada dasarnya, kondisi ekonomi-lah yang menjadi alasan terbesar, yang membuat mereka harus meninggalkan Indonesia untuk bekerja di negara orang.Tidak semua orang bisa memahami PMI, baik dari latar belakang, kondisi kerja, juga kesehatan mental karena tekanan yang harus dialaminya. Di sini kita akan mengupas kondisi yang dialami PMI pada umumnya. Khususnya sektor pekerja rumah tangga. Pada tahap awal ketika PMI baru menginjakkan kaki di negara orang atau masuk ke tempat kerja, pasti mengalami yag nemanya "culture shock". Ya...